Pertanian merupakan salah satu dari aspek yang menjadi penyokong kehidupan, baik kehidupan di pedesaan ataupun di perkotaan. Sektor ini merupakan sektor yang berfungsi sebagai penyuplai bahan makanan. Namun agaknya pertanian untuk saat ini dan untuk waktu yang akan datang memerlukan perhatian yang lebih. Hal ini terkait dengan adanya efek pemanasan global yang melanda bumi yang disebabkan oleh produksi gas emisi yang terlampau tinggi. Pemanasan global semakin menguat dengan berkurangnya luas hutan sebagai pengimbang siklus udara.
 
Penyuluhan terhadap petani sebagai bentuk dari perhatian yang diberikan pemerntah harus dilakukan dalam upaya memnghambat adanya pemanasan global. Seperti yang telah dilakukan oleh beberapa negara yang memasukkan sector pertanian sebagai sector unggulan, seperti Thailand.
 
Di Thailand penyuluhan tentang dampak pertanian terhadap pemanasan global kepada petani memang telah dilakukan. Penyuluhan tersebut berisi tentang pembakaran sisa pertanian yang juga dapat memperparah pemanasan global. Penyuluhan tersebut dititik beratkan pada penanaman padi. Penitik beratan tersebut bukan karena pembudidayaan padi sebagai produsen gas metana dan carbondioksida terbesar, tetapi dikarenakan pertanian padi di Asia merupakan sector yang mendominasi dari sector-sektor yang lain.
 
Pemanasan global juga terjadi di Indonesia. Bahkan di Indonesia telah terjadi iklim global. Hal ini dapat dilihat dari maraknya bencana banjir saat musim penghujan tiba dan kekeringan saat musim kemarau. Bila ditilik memang sebagian besar faktor yang menyebabkan iklim global ini merupakan akibat dari tindakan-tindakan yang merusak keseimbangan lingkungan. Kita bisa melihat dari adanya penggundulan hutan yang dilakukan tanpa adanya penanaman ulang selama berpuluh-puluh tahun. Pembukaan lahan baru oleh petani-petani juga menjadi faktor yang memperparah peanasan global di Indonesia. Kita tentunya masih ingat tentang adanya pembukaan lahan baru di Kalimantan dengan membakar semak-semak yang dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Indonesia sendiri tatapi juga dirasakan oleh beberapa negara tetangga.
 
Dengan demikian hal yang harus dilakukan adalah melakukan penyuluhan atau sosialisasi terhadap masyarakat tentang pembukaan lahan baru yang dapat memperparah pemanasan global di Indonesia serta menghindari emisi gas secara berlebihan.
 
Kaitan pemanasan global dengan sektor pertanian, khususnya budidaya padi, juga telah menjadi perhatian banyak pihak. Berbagai inovasi budidaya tanaman padi terus dilakukan. Perjuangan untuk meningkatkan produksi dan juga meningkatkan kualitas padi terus diupayakan. Akan tetapi, tantangan problem pemanasan global yang muncul membuat para peneliti harus mengkaji ulang pertanian padi sawah yang sudah menjadi tradisi dari waktu ke waktu. Persoalan pemanasan global harus menjadi salah satu faktor dalam melihat masalah-masalah pertanian. Pemanasan global akan berpengaruh terhadap produktivitas tanaman pangan dan ketersediaan air.
 
Studi yang sudah ada menunjukkan produktivitas padi di China akan menurun 5-12 persen apabila suhu mengalami kenaikan 3,6 derajat Celsius. Kasus yang sama juga akan terjadi di Banglades. Produksi beras di negeri itu akan turun sekitar 10 persen. Produksi gandum di Banglades akan turun sepertiganya pada 2050 dibandingkan dengan produksi saat ini jika kenaikan suhu itu terjadi.
 
Panel Antar Pemerintah tentang Pemanasan Global seperti diberitakan Environmental News Network menyimpulkan bahwa budidaya padi adalah satu di antara penyebab utama peningkatan emisi metana, salah satu gas rumah kaca yang 21 kali lebih berpotensi menyebabkan efek rumah kaca dibanding karbon dioksida, yang menyebabkan kerusakan ozon dan kenaikan suhu.
 
Dalam pertemuan itu muncul draf perubahan budidaya padi dan juga perbaikan usaha peternakan yang diharapkan dapat menurunkan emisi metana dari sektor pertanian. Penurunan produksi gas metana itu diharapkan dari sekitar 56 persen dibanding produksi gas metana saat ini apabila perbaikan budidaya padi dilakukan. Emisi gas dalam produksi padi adalah unik. Selain memproduksi gas metana yang berasal dari peruraian bahan organik usaha tani padi, juga memproduksi karbon dioksida yang dihasilkan dari pembakaran sisa tanaman padi. Usaha tani padi juga memproduksi nitrogen dioksida dari peruraian pupuk. Semua gas itu merupakan penyebab efek rumah kaca.
 
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah pemanasan global yang disebabkan oleh pertenian adalah dengan menggunakan pertanian organik. Pertanian organik adalah cara menanam tanaman secara alami dengan penekanan terhadap perlindungan lingkungan dan pelestarian tanah serta sumber air kita yang berkelanjutan. Pertanian organik tidak menggunakan pupuk buatan yang berasal dari bahan bakar minyak, pestisida, atau makanan dari hasil modifikasi genetika. Pertanian organik sebaliknya menggunakan pestisida biologi tanpa kimia yang diatur secara ketat sehingga melindungi tanah, udara, makanan, dan hewan liar dari bahaya kimia yang biasa digunakan dalam pertanian konvensional. Melalui teknik bervariasi seperti rotasi penanaman, pupuk hijau, dan kontrol pestisida biologi; petani organik dapat membuat tanah yang lebih baik dan memproduksi tanaman yang lebih sehat yang dapat memberi daya tahan terhadap penyakit maupun serangga. Tumbuhan  ini ditanam di atas tanah yang kaya nutrisi, mengandung tingkat mineral dan mikronutrisi yang lebih tinggi, termasuk vitamin dan antioksidan yang penting. Jadi, untuk menghindari racun yang berbahaya, makanan organik menjadi makanan yang jauh lebih baik bagi vitalitas dan kesehatan kita. Tak diragukan lagi bahwa semakin banyak dokter yang merekomendasikan organik, pola makan nabati untuk meningkatkan kesehatan dan memulihkan diri dari penyakit kronis.
 
Pertanian organik juga menawarkan manfaat berikut: Melindungi jutaan petani dan pekerja pertanian di seluruh dunia dari racun pestisida serta bahaya lain yang berhubungan, mengurangi risiko pribadi dari kanker karena pestisida, mengurangi efek ketidaksuburan dan gangguan pada sistem saraf, melindungi kesehatan bagi anak-anak dan bayi yang belum lahir, melindungi keanekaragaman hayati, melestarikan lapisan tanah atas yang penting untuk menghindari pengikisan yang cepat karena pertanian konvensional; mengurangi zona mati yang ada di lautan karena pupuk buatan; melindungi koloni lebah dari kemusnahan, mengembalikan keamanan suplai pangan kita; dan masih banyak lagi.
 
Pertanian organik menawarkan kita harapan yang besar dengan kapasitas untuk membantu mengatasi beberapa masalah lingkungan yang paling kritis saat ini, yaitu: pemanasan global, kerusakan lingkungan, dan menipisnya persediaan pangan dan air di seluruh dunia. Dibandingkan dengan pertanian konvensional, pertanian organik menggunakan bahan bakar fosil dan air yang jauh lebih sedikit untuk menghasilkan panen yang sama. Terlebih lagi, ia mungkin dapat membantu mengerem dan bahkan membalikkan efek perubahan iklim.
 
Dalam salah satu penelitian yang paling lama terhadap pertanian organik, Institut Rodale yang ada di AS menemukan bahwa managemen tanah organik tidak hanya memperkecil penggunaan bahan bakar fosil, tapi juga menyerap karbon dioksida dari udara dan menyimpannya sebagai karbon di dalam tanah. Para ilmuwan di Rodale memperkirakan bahwa jika praktik organik diimplementasikan pada lahan seluas 3,5 triliun acre, maka hampir 40 persen dari emisi CO2 saat ini dapat diserap. Karena CO2 membutuhkan 100 tahun untuk habis di atmosfer, jadi penelitian terakhir menyatakan bahwa planet kita sedang dalam bahaya dan pemanasan global dapat dengan cepat mencapai titik tanpa harapan. Sekarang gudang pengikat karbon kita seperti laut atau hutan sedang mengalami kerusakan semakin cepat, jadi peranannya untuk menyelamatkan bumi kita sudah tidak begitu dapat diandalkan lagi.